PERAN GENDER DALAM MASYARAKAT BENUAQ




      Dayak Benuaq ?
      Suku Dayak Benuaq adalah salah satu sub suku Dayak  yang banyak tersebar di pulau Kalimantan. Satu diantara Sub Suku Dayak yang tergabung didalam Persekutuan Dayak Kalimantan Timur ( PDKT) , termasuk kedalamkelompok Lowangan. Pada umumnya tinggal di Kutai Barat Kutai Kertanegara, Kota Samarinda, Kota Balikpapan dan Kota Bontang. Namun tidak itu saja , orang Benuaq juga tersebar di mana- mana.
      Kembali kepada judul tulisan mengenai Peran Gender Dalam Masyarakat Dayak Benuaq, tentu saja tulisan ini erat hubungannya dengan peran perempuan Benuaq didalam masyarakat.

Kalau di kota orang mengenal istilah gender  yaitu suatu hubungan  atau peran sosial antara laki –laki dan perempuan didalam suatu masyarakat , pengertian ini berbeda dari perbedaan jenis kelamin secara biologis . Jenis kelamin kita adalah  suatu anugerah dari Tuhan  apakah kita dilahirkan  sebagai laki –laki atau perempuan. Tetapi gender adalah caranya kita menjadi maskulin atau feminin adalah suatu kombinasi dasar secara biologis  di bentuk oleh budaya , yang setiap masyarakat mempunyai gambaran yang berbeda – beda bagi para anggotanya untuk dipatuhi begitu mereka  belajar bagaimana bertindak berdasarkan peran maskulin atau feminin  sebagaimana mereka belajar bahasa mereka sendiri.
            Dari waktu ke waktu  dari sejak kita masih merupakan bayi  yang mungil sampai kita
menjadi dewasa kita belajar mempraktekkan cara-cara khusus daripada menjadi laki-laki dan perempuan yang telah digambarkan masyarakat untuk kita. Gender adalah seperangkat peran yang mana seperti kostum atau topeng yang dipakai dalam sandiwara , berbicara kepada orang lain bahwa kita adalah laki-laki atau perempuan. Seperangkat dari pada tingkah laku khusus ini  yang mana mengikat penampilan kita , cara berpakaian , cara bersikap , kepribadian , kerja didalam rumah atau diluar rumah tangga , seksualitas , komitmen keluarga , dan sebagainya bersama – sama membentuk peran gender kita               ( gender role ). Dan oleh karena peran gender itu pula yang mempengaruhi hukum dan undang2 , mempengaruhi kedudukan wanita di dalam masyarakat.  Singkatnya Gender itu adalah peran wanita dan pria di dalam masyarakat . Dimana secara umum orang selalu menggambarkan  bahwa perempuan urusannya mengurus rumah tangga ( peran domestic ) dan pria adalah pencari nafkah urusan public ) .
            Di kalangan orang Dayak system genealogis adalah parental  dimana garis keturunan ayah atau ibu dianggap sama  terutama suku Benuaq,   sehingga wanita mempunyai kedudukan yang sama di dalam masyarakat  dengan kaum laki-laki . Tidak di bedakan perannya  dalam masyarakat apakah didalam rumah ataupun diluar rumah , wanita boleh jadi pemimpin .  Persamaan hak dan kedudukan antara wanita dan pria   terlihat juga dari silsilah atau susur bentakng  dengan jelas  garis keturunan itu tidak di bedakan apakah dari anak laki atau perempuan tetapi boleh diambil dari salah satu dari keduanya .  Secara otomatis warisan tidak di bedakan antara laki – laki  dan perempuan demikian juga sistim kerja,  yang berbeda dalam warisan adalah anak sulung biasa memiliki lebih dari yang lainnya , dan kecuali juga  anak yang dianggap suyuk  yang lebih menyayangi dan memelihara orang tua sampai meninggal dunia.
             Ini berbeda dari sistim patrilineal  garis keturunan ayah dan matrilineal  garis keturunan ibu. Anggota keluarga orang Benuaq yang menikah boleh memilih tinggal di keluarga istri atau suami. Persamaan hak dan kedudukan antara pria dan wanita suku Dayak Benuaq  terjadi dalam berbagai hal seperti dalam hal keagamaan mereka memiliki hak yang sama seperti dalam upacara “ Belian “ mengobati orang sakit , kita kenal dengan “ belian bawe “ , Ngeragaq “ , demikianpun dalam seni budaya khususnya budaya tari . Tarian berperan penting dalam social dan keagamaan karena diadakan dalam kontek ritual dan seremonial.  Demikianpun dengan pemberian gelar dan di berikan juga kepada perempuan,  bahkan dewa perempuanpun di beri gelar yang membuktikan bahwa peran gender orang Dayak Benuaq  sama antara orang laki dan perempuan.
             Kedudukan yang sama antara wanita dan pria ini di jamin dalam hukum adat, seperti dalam hukum adat perkawinan. Pada dasarnya perkawinan dalam suku dayak adalah monogami , adanya poligami adalah sesuatu yang tidak biasa atau diluar kebiasaan . Bila hal itu terjadi maka ada ketentuan dalam hukum adat yang memberikan keunggulan pada istri pertama. Bila terjadi perjinahan maka ada hukum yang tegas mengaturnya dengan sangsi2 yang berat. Perjinahan dengan wanita yang telah bersuami. Perjinahan yang dilakukan oleh lelaki yang sudah  beristri .
              Ada beberapa hal yang  berbeda dari gambaran umum  mengenai  gender ,  meskipun ada pekerjaan tertentu yang  karena beratnya pekerjaan dianggap sebagi kerja laki – laki seperti menebang pohon , memanjat  puti atau pudou  pohon madu  namun semua anak sama penting  baik anak  laki maupun anak perempuan , orang Dayak tidak pernah mempermasalahkan kelahiran anak laki atau anak prempuan semua anak  mempunyai  hak yang sama untuk mendapat warisan dari orang tua , semua anak memperoleh kasih  sayang yang  sama dan bekerja bersama – sama , semua anak baik laki-laki maupun perempuan boleh menduduki jabatan penting dalam masyarakat adat . Dalam banyak kesempatan terlihat ada wanita yang bisa memanjat pohon dan menebang kayu untuk ladang  , tidak menjadi permasalahan.
           Di dalam sejarah keturunan Dayak , ada lima perempuan yang pernah memimpin suku terbesar di Kalimantan.  Pemimpin wanita itu menurut  Bapak DR.  Yurnalis Ngayoh Sesepuh Dayak Kaltim yang mantan Gubernur  tidak kalah bijak dan arif dengan kepala suku dari laki-laki .  “ Itu sejarah warga Dayak yang tidak bisa dipungkiri peran aktif perempuan  dalam mengangkat kehidupan warga Dayak. “ Menurut  sesepuh warga Dayak ini  ada lima  wanita  Dayak yang pernah memimpin suku Dayak di daerah pedalaman Mahakam di atas riam – riam adalah Ratu Buring  Ayu,  didaerah bawah Riam –riam seperti daerah Sendawar , Melak,   Ratu Angin Men Uyang , di daerah tengah Mahakam  yaitu Tenggarong  dipimpin oleh Panglima Perang Dayak yaitu Ratu Siti Berawan . Sedangkan di daerah Samarinda  oleh Ratu Pipih Mayang Mengurai dan di kawasan Muara Mahakam  di pimpin oleh Putri Junjung Buyah atau Putri Junjung Buih . Ke lima wanita  Dayak ini terbukti piawai dalam   mengelola pemerintahan. ( Swara Kaltim ,  Gender Dayak  . Sabtu 12 April 2003 hal I )
            Fredolin Ukur dalam bukunya  Kebudayaan Dayak   hal 12 menulis    :...”  Karena itu dalam masyarakat Dayak  pada hakekatnya kaum wanita mempunyai kedudukan yang sama dengan kaum pria . Baik dalam kehidupan social maupun kehidupan religious  kaum wanita berperan sebagai balian ( Imam  ) cukup menonjol  peranannya. Di kalangan suku Manyaan jabatan Balian kematian ( wadian matei ) hanya di jabat oleh kaum wanita. “ 

Foot Note: Dapat dibaca selengkapnya di dalam buku Beyond My Dream ditulis oleh Rina Laden.
           

0 Response to "PERAN GENDER DALAM MASYARAKAT BENUAQ"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel